“Tabunganku” merupakan produk Nasional dalam rangka Pencanangan Pemerintah dimana ditetapkan tahun 2010 sebagai tahun “Indonesia Menabung”. Produk “Tabunganku” diberi tagline “TABUNGANKU MASA DEPANKU”.

“TabunganKu” merupakan suatu produk tabungan untuk nasabah perorangan dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama oleh Bank-bank di Indonesia (bagi yang berminat) guna menumbuhkan budaya menabung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Bank Indonesia sebagai bank sentral Negara Republik Indonesia, selain sebagai wujud kepedulian sosial perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk tabungan yang tidak dibebani biaya administrasi, produk tabungan ini juga disinyalir dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui budaya menabung, Memberikan respon positif terhadap kebutuhan masyarakat kecil
terhadap produk tabungan yang berbiaya murah, Membangun image bahwa menabung itu mudah dan menguntungkan.

Bank Indonesia memprediksi potensi penghimpunan dana dari produk “TabunganKu” ini hingga Rp 24 Trilyun dengan biaya pemasaran produk yang lebih murah karena dilakukan secara bersama, namun ini hanyalah sebuah analisa diatas kertas saja. Rp 24 T diperebutkan secara bersama, tentunya Bank harus melakukan kaji ulang tentang berapa potensi dana yang bisa mereka dapatkan dengan demografi bisnis yang masing-masing bank sangat jauh berbeda. Untuk terget penghimpunan dana dengan jumlah tertentu, Bank harus melakukan promosi yang terencana, dan itu juga merupakan biaya.
Read more…

January 31st, 2010 | Categories: PERBANKAN | Tags:

Dunia perbankan kembali diguncang dengan kejadian raibnya dana nasabah melalui pembobolan ATM yang disinyalir dilakukan oleh sindikat pembobol ATM Internasional. Menurut Bank Indonesia, sampai saat ini telah terjadi pembobolan rekening nasabah lewat ATM pada 6 bank, yaitu BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, Bank Permata, dan BII dengan lokasi kejadian di Bali dan Jakarta dengan potensi kerugian yang diperkirakan bisa mencapai angka Puluhan milyaran rupiah

Hal ini merupakan suatu contoh kejadian risiko operasional yang disebabkan oleh kejahatan secara eksternal (Eksternal Fraud) yang jika tidak diantisipasi secara dini akan berdampak pada munculnya risiko lainnya, seperti risiko reputasi (pemberitaan negatif terkait operasional Bank) dan pada akhirnya berujung pada munculnya risiko likuiditas karena nasabah bank yang merasa dananya tidak aman lagi akan melakukan penarikan dana secara besar-besaran. Tentunya jika hal ini terjadi, tidak hanya akan mengganggu likuiditas bank itu sendiri tapi juga akan dapat membawa implikasi terhadap perekonomian secara menyeluruh atau berpotensi berdampak sistemik. Read more…

January 3rd, 2010 | Categories: Opiniku | Tags:

Beberapa waktu yang lalu, sesuatu membuat hati dan pikiran saya menjadi gundah, sebuah peryataan yang mengatakan bahwa pengaruh musik Melayu menurunkan kualitas musik Indonesia, pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang musisi papan atas di negeri ini, hal itu terjadi karena maraknya band atau grup musik pendatang baru yang merebut pasar industri musik yang di klaim secara sepihak sebagai representasi musik Melayu, padahal bila kita tinjau dengan seksama kelompok-kelompok musik yang dimaksud itu sama sekali tidak menggusung musik Melayu, tetapi lebih cendrung ke nuansa pop rock ala Malaysia yang sempat booming di pertengahan tahun 90an.

Musik Melayu jelas memiliki jenis ritme tersendiri seperti Zapin, Joget, Mak Inang, Senandung dan lainnya, begitu pula dengan cara menyanyikan sebuah lagu, memiliki cengkok dan lengkok yang khas, berbeda dengan dangdut,keroncong atapun group band papan atas tersebut yang jika bernyanyi energik. Musik Melayu, nuansanya akan timbul bila ada unsur unsur yang mendukung, baik dari jenis bunyi bunyian, ritmik maupun melodi lagu dan berikut dengan ornamentasinya yang disebut Grenek tentunya berbeda dengan group Band pendatang baru katakanlah ST12, Kangen Band, Wali Band, Lyla Band dll

Sangat menyedihkan dan memalukan sebenarnya menghadapi kenyataan bahwa banyak musisi kita bahkan yang sudah berada dipapan atas tidak mengenal musik dari budayanya sendiri, lebih memahami musik musik dari budaya barat seperti Rock n Roll, Fussion,Metal, Grunge dan lain sebagainya, berikut dengan budaya ber-prilaku,berbusana dan bahkan berbicara, dan sangat berbangga hati dengan itu semua.

Sebenarnya hal seperti itu tidak menjadi masalah, karena musik itu harus dibebaskan dari hal yang menyempitkan nya, namun setidaknya walaupun tidak menggusung musik yang bernuansa tradisi negeri hendaknya ada sebuah penghormatan dan rasa menghargai, tidak kemudian asal sembarang menilai dalam kebutaan budaya.

Kata ” Melayu ” itu memang hanyalah sebuah suku kata tetapi kata itu mengalir didalam darah jutaan manusia yang terlahir sebagai putera puteri bangsa ( bukan lagi suku-red ) Melayu, yang buminya terhampar melampaui batas negara, yang membuat saya sangat gundah adalah saat pernyataan pernyatan yang tak berdasar semacam itu mempengaruhi generasi muda yang dengan gampang menerima bahkan meyakini suatu informasi, gaya dan trend dari figur yang di idolakannya.

Apakah kita hanya tinggal diam disaat anak anak kita malu menjadi ” Orang Melayu ” hanya karena ucapan bodoh sang publik figur?

Apakah suku kata Jawa, Batak, Betawi, Minang, Bugis, Papua , Ambon dan lain sebagainya menerima bila diperlakukan sama ?

Suku kata ‘ Melayu ‘ harus diredefinisi sehingga tidak dengan random mewakili sesuatu yang ditujukan masyarakat secara umum, apalagi sesuatu yang menggambarkan prilaku negatif seperti, ” Janji Melayu, Jam Melayu, Kerja Melayu, Politik Melayu dan hal jelek lainnya, bukankah ini adalah doktrinasi tidak langsung yang sungguh jahat merasuki pikiran kita ?

Mari sama kita meluruskan ini semua….

Tak kan melayu hilang dibumi, maju terus Melayu Riau semoga menjadi panglima dan tuan rumah di negeri sendiri.