January 3rd, 2010 | Categories: Opiniku | Tags:

Beberapa waktu yang lalu, sesuatu membuat hati dan pikiran saya menjadi gundah, sebuah peryataan yang mengatakan bahwa pengaruh musik Melayu menurunkan kualitas musik Indonesia, pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang musisi papan atas di negeri ini, hal itu terjadi karena maraknya band atau grup musik pendatang baru yang merebut pasar industri musik yang di klaim secara sepihak sebagai representasi musik Melayu, padahal bila kita tinjau dengan seksama kelompok-kelompok musik yang dimaksud itu sama sekali tidak menggusung musik Melayu, tetapi lebih cendrung ke nuansa pop rock ala Malaysia yang sempat booming di pertengahan tahun 90an.

Musik Melayu jelas memiliki jenis ritme tersendiri seperti Zapin, Joget, Mak Inang, Senandung dan lainnya, begitu pula dengan cara menyanyikan sebuah lagu, memiliki cengkok dan lengkok yang khas, berbeda dengan dangdut,keroncong atapun group band papan atas tersebut yang jika bernyanyi energik. Musik Melayu, nuansanya akan timbul bila ada unsur unsur yang mendukung, baik dari jenis bunyi bunyian, ritmik maupun melodi lagu dan berikut dengan ornamentasinya yang disebut Grenek tentunya berbeda dengan group Band pendatang baru katakanlah ST12, Kangen Band, Wali Band, Lyla Band dll

Sangat menyedihkan dan memalukan sebenarnya menghadapi kenyataan bahwa banyak musisi kita bahkan yang sudah berada dipapan atas tidak mengenal musik dari budayanya sendiri, lebih memahami musik musik dari budaya barat seperti Rock n Roll, Fussion,Metal, Grunge dan lain sebagainya, berikut dengan budaya ber-prilaku,berbusana dan bahkan berbicara, dan sangat berbangga hati dengan itu semua.

Sebenarnya hal seperti itu tidak menjadi masalah, karena musik itu harus dibebaskan dari hal yang menyempitkan nya, namun setidaknya walaupun tidak menggusung musik yang bernuansa tradisi negeri hendaknya ada sebuah penghormatan dan rasa menghargai, tidak kemudian asal sembarang menilai dalam kebutaan budaya.

Kata ” Melayu ” itu memang hanyalah sebuah suku kata tetapi kata itu mengalir didalam darah jutaan manusia yang terlahir sebagai putera puteri bangsa ( bukan lagi suku-red ) Melayu, yang buminya terhampar melampaui batas negara, yang membuat saya sangat gundah adalah saat pernyataan pernyatan yang tak berdasar semacam itu mempengaruhi generasi muda yang dengan gampang menerima bahkan meyakini suatu informasi, gaya dan trend dari figur yang di idolakannya.

Apakah kita hanya tinggal diam disaat anak anak kita malu menjadi ” Orang Melayu ” hanya karena ucapan bodoh sang publik figur?

Apakah suku kata Jawa, Batak, Betawi, Minang, Bugis, Papua , Ambon dan lain sebagainya menerima bila diperlakukan sama ?

Suku kata ‘ Melayu ‘ harus diredefinisi sehingga tidak dengan random mewakili sesuatu yang ditujukan masyarakat secara umum, apalagi sesuatu yang menggambarkan prilaku negatif seperti, ” Janji Melayu, Jam Melayu, Kerja Melayu, Politik Melayu dan hal jelek lainnya, bukankah ini adalah doktrinasi tidak langsung yang sungguh jahat merasuki pikiran kita ?

Mari sama kita meluruskan ini semua….

Tak kan melayu hilang dibumi, maju terus Melayu Riau semoga menjadi panglima dan tuan rumah di negeri sendiri.

January 1st, 2010 | Categories: EHMMM | Tags:

Wahai GURU AKUNTANSI
DEBETlah cintaku di NERACA hatimu
JURNALlah setiap TRANSAKSI rinduku
Hingga setebal LAPORAN KEUANGAN PERBANKAN

Wahai GURU AKUNTANSI
Jadikan aku manager INVESTASI cintamu
Kan ku HEDGING kasih dan sayangmu
Di setiap LEMBARAN PORTOFOLIO hatiku
Bila masa JATUH TEMPO tlah tiba
Jangan kau RETUR kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di REKSADANA asmara
Berkelana di antara AKTIVA dan PASSIVA

Wahai mutiara kalbu ku
Hanya kau lah Master BUDGET hatiku
INVENTORY cintaku yang syahdu
GENERAL LEDGER ku yang tak lekang ditelan waktu

GURU AKUNTANSI
REKONSILIASIkanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah NERACA SALDO kita
Yang membalut LAPORAN LABA RUGI kita
Dan cerahkanlah LAPORAN ARUS KAS kita selamanya

December 31st, 2009 | Categories: EHMMM | Tags:

Sulit tuk diungkapkan, sulit untuk dikatakan, hanya bisa dirasakan. Terkadang banyak yang mengatakan cinta itu sebuah jebakan jiwa, yang jika tidak berhati-hati, maka kita akan binasa. Terdiam dalam hening, sepi, dan saat ini aku tidak bisa menguasainya.

Apa yang telah ia perbuat, sehingga hati dan pikiran ini tidak bisa sejalan lagi. Ada apa dengan logika, sehingga ia mudah dikalahkan oleh cinta. Aku bingung.. Aku tidak bisa berkata. Diam, hening, sepi…tanpa dirimu.

Aku rindu.. Rindu sebagai seorang pembenci cinta dan penerima cinta. Aku tidak ingin, tapi sekali lagi, cinta dan logika bukan sebuah team work yang bisa saling men support.

Tahukah wahai engkau sang hawa.. Yang aku inginkan saat ini, hanya membiarkan waktu berjalan dalam kebekuan, sampai kau datang, mencairkan es yang telah beku. Ku mencoba untuk berpikir positif setelah melihat dan membaca semuanya dan kutidak mengambil kesimpulan maupun berpikir macam-macam seperti kata dirimu, tapi ku Yakin Usaha Akan Sampai (YAKUSA). Ku ditakdirkan untuk menjadi Sang Pemenang melalui Impian Sang Pemimpi.

Sejak ku mengenal dirimu, dirimu telah mengalihkan pandanganku, dalam tiap malamku, ku bersujud kepada-Nya dan menyertakan namamu dalam setiap doa dalam tahajudku. Insya Allah kuyakin atas dirimu.